Mengungkap Kerajaan Tertua di Pulau Jawa, Pulau Jawa adalah jantung sejarah Nusantara yang kaya akan kisah kerajaan-kerajaan besar.
Namun, di antara kerajaan-kerajaan megah seperti Mataram, Majapahit, dan Singhasari, siapa sebenarnya kerajaan tertua di Pulau Jawa? Siapa yang pertama kali membangun pemerintahan terorganisir di daratan Jawa? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi topik menarik karena menyentuh batas antara legenda, naskah kuno, dan bukti arkeologis.
Dalam pembahasan ini, kita akan menyelami berbagai teori historis, naskah kuno, prasasti, serta pendapat para sejarawan modern untuk menelusuri kerajaan tertua di Jawa — menyajikan analisis mendalam serta kontroversi terkini.
1. Mengapa Pertanyaan “Kerajaan Tertua” Sulit Dijawab
Sebelum menjawab, penting untuk memahami mengapa menentukan kerajaan tertua di Jawa bukanlah hal sederhana:
- Sumber Terbatas
Sejarah awal Jawa banyak disandarkan pada prasasti, naskah lokal (sebagian kontroversial), dan catatan asing (seperti catatan Tiongkok). Banyak kerajaan kuno tidak meninggalkan jejak arkeologis yang jelas atau kontinuitas yang terdokumentasi. - Naskah Kontroversial
Beberapa sumber utama untuk kerajaan awal di Jawa berasal dari naskah seperti Wangsakerta. Namun, para ahli sejarah dan arkeologi mempertanyakan keautentikan naskah ini, menyebut ada kejanggalan dan kontradiksi dalam isinya. - Kerajaan “Bayangan” vs Kerajaan yang Terbukti
Ada perbedaan antara kerajaan yang disebut dalam legenda atau naskah tradisional dengan kerajaan yang diakui berdasarkan bukti fisik (prasasti, candi, artefak). Sejarah pertama di Pulau Jawa bisa jadi adalah kerajaan “bayangan”, yang cerita atau naskahnya ada, tetapi bukti arkeologisnya minim atau tidak konklusif.
Karena itu, dalam menjawab pertanyaan “siapa kerajaan tertua di Jawa?”, kita perlu melihat beberapa kandidat yang berpotensi, menimbang bukti untuk dan melawan.

2. Kandidat Utama: Kerajaan Salakanagara
Salah satu nama paling awal dan kontroversial yang sering muncul dalam diskusi adalah Kerajaan Salakanagara.
2.1 Sejarah dan Legenda Salakanagara
- Menurut Naskah Wangsakerta (Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara), Salakanagara berdiri sekitar 130 Masehi dan berlangsung sampai sekitar 362 M
- Pusat pemerintahan kerajaan ini disebut di wilayah Teluk Lada, yang sekarang berada di daerah Pandeglang, Banten
- Raja pertama Salakanagara menurut naskah tersebut adalah Dewawarman, pedagang asal India yang menikahi seorang putri lokal dan mendirikan kerajaan
- Gelar raja yang digunakan adalah Prabu Darmalokapala Aju Raksa Gapura Sagara, sebuah gelar yang bermakna simbolik “pelindung lautan”.
2.2 Kontroversi dan Keraguan Sejarah
- Meskipun Wangsakerta menyebutkan Salakanagara sebagai kerajaan awal, bukti arkeologis yang kuat masih lemah: tidak banyak prasasti, candi, atau artefak yang bisa dikaitkan langsung dengan Salakanagara.
- Para sejarawan mencatat bahwa Naskah Wangsakerta sendiri dipertanyakan keasliannya. Ada bagian-bagian yang dianggap sebagai rekayasa atau pengubahan naskah oleh pihak-pihak di masa kemudian.
- Karena itu, meskipun Salakanagara secara naratif dan tradisional sering disebut sebagai kerajaan pertama di Jawa, ia tidak diakui secara universal oleh semua sejarawan sebagai kerajaan “terbukti” berdasarkan prasasti dan artefak nyata.
2.3 Pandangan Populer dan Media
- Media populer seperti Kompas menyebut Salakanagara sebagai salah satu kerajaan Hindu tertua di Jawa.
- Namun, beberapa tulisan modern menyatakan bahwa meskipun salakanagara penting dalam legenda, Tarumanagara lebih dapat diandalkan sebagai kerajaan Hindu sangat awal yang punya bukti nyata.
3. Kandidat Kedua: Kerajaan Tarumanagara
Jika Salakanagara adalah tokoh legenda atau kerajaan semi-mitos, maka Tarumanagara dianggap sebagai salah satu kerajaan paling awal di Jawa dengan bukti nyata.
3.1 Sejarah Singkat Tarumanagara
- Tarumanagara (atau Kerajaan Taruma) adalah kerajaan di Jawa Barat yang sangat awal dan berpengaruh.
- Raja yang paling dikenal dari Tarumanagara adalah Purnawarman, yang memerintah pada abad ke-5 (diperkirakan dari tahun ~395 hingga 434 M).
- Bukti paling meyakinkan keberadaan Tarumanagara datang dari prasasti batu: minimal tujuh prasasti Taruma telah ditemukan di wilayah Bogor, Jakarta, dan sekitarnya, seperti Prasasti Ciaruteun, Tugu, Kebon Kopi, dan lain-lain.
- Dalam prasasti-prasasti tersebut, Purnawarman menyebut dirinya sebagai pengabdi Dewa Wisnu, menunjukkan aspek religius Hindu dalam pemerintahan Taruma.
- Prasasti Tugu juga mencatat proyek hidraulik: Purnawarman membangun saluran (kanal) yang mengubah aliran sungai Cakung untuk irigasi dan pertanian
3.2 Signifikansi Sejarah dan Arkeologi
- Karena adanya sejumlah prasasti fisik, Tarumanagara dianggap lebih kredibel sebagai kerajaan awal dibanding Salakanagara (yang terutama dikenal dari naskah).
- Keberadaan proyek pembangunan dan saluran air menunjukkan bahwa kerajaan ini telah memiliki organisasi pemerintahan yang cukup maju.
- Letaknya di Jawa Barat (wilayah kini Bogor, Jakarta, Banten) membuat Tarumanagara menjadi penguasa penting di bagian barat pulau Jawa.
3.3 Keruntuhan dan Warisan
- Kerajaan Tarumanagara menurun dan akhirnya runtuh sekitar abad ke-7.
- Setelah keruntuhannya, wilayah bekas Taruma menjadi bagian dari kerajaan-kerajaan lokal baru atau dilebur ke kerajaan yang lebih besar, seperti kerajaan Sunda dan Galuh.
- Meskipun demikian, jejak Tarumanagara tetap hidup dalam prasasti-prasasti dan dalam identitas lokal (Sunda). Banyak sejarawan menyebutnya sebagai fondasi awal peradaban berstruktur di Jawa barat.
4. Kandidat Ketiga: Kerajaan Kalingga
Selain Salakanagara dan Tarumanagara, ada juga Kerajaan Kalingga sebagai salah satu kerajaan tertua di Jawa, khususnya di Jawa Tengah.
4.1 Sejarah Kalingga
- Kalingga (kadang dieja Kalingga atau Kalinga) adalah kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri kira-kira pada abad ke-6 hingga ke-7 M.
- Letaknya diyakini di pantai utara Jawa Tengah, meskipun ibu kota pastinya masih diperdebatkan — sebagian ahli menyebut antara Pekalongan hingga Jepara.
- Raja atau ratu yang dikenal adalah Shima, yang tercatat dalam sumber-sumber Tiongkok dan lokal.
- Kalingga dianggap sebagai kerajaan pertama di Jawa Tengah yang memiliki pengaruh Hindu-Buddha yang jelas.
4.2 Bukti dan Kesulitan Penelitian
- Karena relatif sedikit peninggalan fisik (sedikit prasasti, struktur candi yang jelas), Kalingga agak sulit diteliti secara arkeologis dibanding Tarumanagara.
- Sumber sejarah utama Kalingga datang dari catatan luar (misalnya catatan Cina) dan tradisi lisan. Ada kekurangan prasasti besar seperti yang ditemukan di Tarumanagara.
- Ini membuat posisi Kalingga sebagai kerajaan tertua yang dapat diandalkan secara arkeologis di Jawa Tengah — tetapi mungkin tidak sekuat Tarumanagara dalam hal bukti yang konkret.
5. Kerajaan Mataram Kuno: Sanjaya dan Sanna
Setelah kerajaan-kerajaan awal seperti Tarumanagara dan Kalingga, muncul kerajaan yang dikenal lebih luas dalam catatan sejarah Jawa: Mataram Kuno (Sering disebut sebagai “Medang” atau “Mataram Sanjaya”).
5.1 Raja Sanna dan Canggal Inscription
- Dalam Prasasti Canggal (732 M), terdapat raja bernama Sanna, yang menurut catatan sudah memerintah pulau Jawa sebelum kekacauan internal.
- Setelah Sanna wafat, kerajaan sempat kacau, lalu Sanjaya (keponakan atau kerabat Sanna) mendirikan kembali kekuasaan dan memulai Dinasti Sanjaya.
- Sanjaya menjadi raja yang sangat penting dan dianggap pendiri Mataram Kuno (atau Medang) dalam banyak catatan sejarah Jawa.
5.2 Signifikansi Historis
- Mataram Kuno adalah kerajaan berpengaruh di Jawa Tengah, dan banyak candi serta prasasti yang berasal dari wilayah ini (walau sebagian besar dari periode setelah Sanjaya).
- Karena catatan Canggal cukup jelas (prasetanya nyata), kerajaan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam transisi sejarah Jawa dari kerajaan awal ke kerajaan klasik yang lebih besar.
5.3 Keterbatasan Sebagai “Kerajaan Tertua”
- Meskipun Mataram Kuno sangat penting dalam sejarah Jawa, ia bukanlah kandidat paling awal dibanding Salakanagara, Tarumanagara, atau Kalingga.
- Tanggal berdirinya Sanjaya lebih “akhir” (abad 8 M) dibanding kerajaan-kerajaan yang disebut sebelumnya.
6. Analisis: Siapa yang Layak Menjadi “Kerajaan Tertua”?
Setelah menelaah kandidat-kandidat utama — Salakanagara, Tarumanagara, Kalingga, dan Mataram kuno — mari analisis lebih dalam berdasarkan kriteria bukti.
| Kandidat | Alasan Mendukung sebagai Kerajaan Tertua | Kelemahan / Keraguan |
| Salakanagara | Disebut dalam Naskah Wangsakerta sebagai berdiri sejak 130 M; legenda kuat; tradisi lokal | Naskah kontroversial; bukti arkeologis lemah; belum ada prasasti konkret yang dikaitkan secara pasti |
| Tarumanagara | Banyak prasasti batu yang nyata (Ciaruteun, Tugu, dsb.); raja Purnawarman tercatat; organisasi pemerintahan (saluran irigasi) | Berdiri lebih lambat dibanding Salakanagara menurut naskah; hanya mencakup Jawa Barat (terspesialisasi) |
| Kalingga | Kerajaan Hindu-Buddha awal di Jawa Tengah; disebut dalam catatan luar; muncul abad ke-6 | Peninggalan fisik minim; kurang prasasti besar; lokasi ibu kota masih diperdebatkan |
| Mataram Kuno (Sanjaya / Sanna) | Bukti prasasti konkret (Prasasti Canggal); jelas dalam catatan sejarah Jawa klasik | Berdiri relatif lebih belakangan; bukan kandidat paling “awal” dalam semua sumber |
Dari analisis ini, banyak sejarawan lebih percaya Tarumanagara sebagai kerajaan tertua di Jawa berdasarkan bukti arkeologis konkret dan keberlanjutan catatan. Kandidat Salakanagara tetap menarik dalam ranah legenda dan naskah, tetapi statusnya sebagai “sejarah pasti” masih diperdebatkan karena keterbatasan bukti fisik.
7. Perspektif Kontemporer dan Pandangan Sejarawan Modern
7.1 Pendapat Para Sejarawan
- Banyak sejarawan modern menganggap Tarumanagara sebagai kerajaan Hindu tertua yang benar-benar terbukti di Jawa, karena prasasti-prasasti dan jejak arkeologisnya
- Sebagian lain menyebut bahwa klaim Salakanagara perlu dilihat dengan skeptis, terutama karena naskah Wangsakerta tidak selalu dianggap otentik secara akademis
- Ada juga peneliti yang berpendapat bahwa kerajaan-kerajaan awal seperti Salakanagara bisa menjadi daya tarik budaya dan simbol identitas lokal, meskipun tidak sepenuhnya diverifikasi secara arkeologi.
7.2 Penelitian Terbaru dan Tantangan
- Penelitian arkeologis terus berlanjut di Jawa Barat, terutama di wilayah yang diduga pusat Salakanagara (Pandeglang, Banten), namun belum ada penemuan prasasti besar yang secara meyakinkan menghubungkan situs arkeologi dengan nama Salakanagara dari naskah Wangsakerta.
- Analisis ulang prasasti Tarumanagara (seperti Tugu) dan proyek hidrolik Raja Purnawarman menjadi tema menarik untuk memahami struktur pemerintahan dan teknologi masa itu.
- Metode penelitian modern seperti pemetaan geoarkeologi, survei LiDAR, dan kajian tekstual naskah kuno bisa menjadi pintu untuk mengungkap lebih jauh kerajaan-kerajaan awal di Jawa.
8. Implikasi Budaya dan Identitas
Mengungkap kerajaan tertua di Pulau Jawa bukan hanya soal akademis: hal ini juga terkait dengan identitas budaya, warisan lokal, dan kebanggaan sejarah.
- Identitas Lokal
Bagi masyarakat di Banten dan Jawa Barat, klaim Salakanagara sebagai kerajaan awal adalah bagian dari narasi identitas lokal yang penting. Meskipun kontroversial, cerita ini tetap hidup dalam tradisi lokal dan narasi budaya. - Warisan Sejarah
Jejak Tarumanagara melalui prasasti adalah aset berharga bagi warisan sejarah Jawa Barat. Memahami kerajaan ini membantu memperkaya pemahaman masyarakat tentang masa pra-klasik di Jawa. - Pendidikan dan Pariwisata
Situs-situs dan peninggalan yang terkait dengan kerajaan awal bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. Cerita kerajaan tertua bisa menjadi daya tarik edukatif sekaligus wisata. - Penelitian Lanjutan
Peneliti muda di bidang arkeologi, sejarah, dan filologi bisa menggunakan klaim tentang Salakanagara dan Tarumanagara sebagai dorongan untuk eksplorasi lebih jauh — baik penggalian fisik maupun studi teks kuno.
9. Kesimpulan
Jadi, siapa kerajaan tertua di Pulau Jawa? Jawabannya tidak hitam-putih. Ada beberapa kandidat:
- Salakanagara adalah kandidat paling awal menurut naskah tradisional (Wangsakerta), disebut berdiri sejak abad ke-2 M. Namun, bukti arkeologisnya lemah dan masih kontroversial.
- Tarumanagara muncul sebagai kerajaan awal yang paling kredibel secara historis karena memiliki banyak prasasti fisik, raja tercatat (seperti Purnawarman), dan jejak infrastruktur pemerintahan.
- Kalingga adalah kerajaan awal di Jawa Tengah dengan latar belakang Hindu-Buddha, tetapi bukti fisiknya tidak sebanyak Tarumanagara.
- Mataram Kuno (Sanjaya / Sanna) adalah kerajaan penting dalam tradisi sejarah Jawa, tetapi muncul lebih “akhir” dibanding kandidat awal lainnya.
Secara kesejarahan, banyak sejarawan modern cenderung menempatkan Tarumanagara sebagai kerajaan tertua yang terbukti secara fisik di Pulau Jawa. Namun, narasi legenda seperti Salakanagara tetap memiliki tempat penting dalam pemahaman budaya dan identitas lokal.
Menggali lebih jauh sejarah kerajaan-kerajaan awal Jawa adalah tugas berkelanjutan: dengan dukungan penelitian arkeologi modern dan analisis naskah kuno, kita mungkin akan terus menajamkan pemahaman kita tentang masa-masa paling awal dalam sejarah pulau ini.