HIACE
081315041922 [email protected]

Proses Pembuatan Brem Madiun. Brem Madiun adalah jajanan tradisional yang sangat khas dari daerah Madiun, Jawa Timur. Bahan bakunya utama adalah beras ketan yang melalui proses fermentasi menjadi tape, kemudian diolah lebih lanjut hingga menjadi lempengan padat yang manis-asam dan lumer di mulut.

Prosesnya panjang dan melibatkan beberapa tahapan penting — dalam ulasan ini kita akan membahas secara rinci bagaimana brem dibuat, dengan gaya yang mudah dipahami dan dihubungkan dengan praktik terkini.

Bahan Baku Utama dan Persiapan Awal

Pada dasarnya, untuk membuat brem, bahan baku pokoknya adalah beras ketan putih. Beberapavarian mungkin menggunakan ketan hitam atau umbi lain (tapi untuk Madiun, yang dominan adalah ketan putih).
Langkah-persiapan awal meliputi:

  1. Pemilihan dan pembersihan
    Beras ketan harus dibersihkan terlebih dahulu agar bebas dari kotoran, batu kecil, dedak atau zat asing. Penelitian menyebutkan bahwa tahap “pencucian” dan “perendaman” penting sebagai persiapan fermentasi karena membantu hidrasi pati ketan agar lebih mudah terfermentasi.
  2. Perendaman
    Setelah dicuci, beras ketan direndam (biasanya beberapa jam, kadangkala disebut sekitar setengah jam hingga 1 jam) untuk menghidrasi butiran ketan. Sebagai contoh, disebut bahwa dalam produksi brem di Madiun, beras ketan direndam sekitar 1 jam sebelum dimasak.
  3. Pengukusan atau pemasakan
    Setelah direndam, ketan kemudian dikukus atau ditanak hingga matang (atau setengah matang tergantung tradisi). Pengukusan ini memiliki fungsi penting untuk gelatinisasi pati dan juga untuk mensterilkan bahan agar mikroba ragi yang ditambahkan bisa bekerja dengan baik. Dalam penelitian dijelaskan bahwa pengukusan dan pendinginan adalah langkah‐kunci sebelum fermentasi.

Tahap Fermentasi Tape Ketan

Ini adalah jantung dari proses pembuatan brem — membuat tape dari ketan putih. Tanpa tape yang baik, brem akan kurang rasa atau kurang tekstur yang khas.

Inokulasi dan fermentasi

  • Setelah ketan matang dan didinginkan hingga suhu yang cocok, ia diinokulasi dengan ragi tape. Ragi ini akan memfermentasi pati dan gula dari ketan menjadi senyawa‐senyawa seperti gula sederhana, alkohol, asam organik, dan senyawa aromatik. Penelitian menyebut bahwa fermentasi tape ketan dapat berlangsung selama 3 hingga 8 hari pada suhu sekitar 30 °C.
  • Dalam praktik tradisional di Madiun, disebut bahwa proses tape berlangsung sekitar seminggu (≈7 hari) dari ketan hingga siap diproses menjadi brem. Contoh: “Proses pembuatan brem … Awalnya proses pembuatan tape beras ketan putih seminggu baru diolah jadi brem.”.
  • Lamanya fermentasi sangat memengaruhi karakter tape yang dihasilkan: jika terlalu singkat (misalnya 2 hari), tape kurang manis, kurang aromatik, teksturnya lebih keras; jika terlalu lama, bisa menghasilkan rasa asam atau keras yang tak diinginkan.

Faktor kontrol penting

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam tahap fermentasi:

  • Suhu ruangan atau tempat fermentasi: suhu ideal sekitar 30 °C atau sesuai lingkungan tradisional di desa.
  • Kebersihan dan kondisi ragi: fermentasi terbaik memerlukan ragi tape yang baik dan bersih agar mikroba yang diinginkan (ragi serta bakteri asam laktat misalnya) bisa tumbuh.
  • Waktu fermentasi: generasi pengrajin di Madiun tahu bahwa terlalu cepat atau terlalu lama akan mempengaruhi hasil.
  • Ventilasi/kelembapan: meskipun kurang dibahas secara eksplisit, lingkungan fermentasi yang baik (tidak terlalu lembab atau berjamur) akan membantu tape yang dihasilkan lebih bersih dan aromanya bagus.

Pengolahan Tape Menjadi Sari dan Kemudian Brem Padat

Setelah tape ketan siap (fermentasi selesai), maka langkah selanjutnya adalah mengubahnya menjadi brem padat. Berikut urutan prosesnya:

1. Pengepresan atau penyaringan tape

Tape yang matang kemudian diperas atau disaring untuk mendapatkan sari tape – yaitu cairan yang berasal dari tape ketan yang difermentasi. Air sarinya ini yang akan menjadi bahan utama pembuatan brem. Contoh praktik tradisional: “tape beras ketan putih itu diperas untuk diambil sarinya”
Tahap ini penting karena hanya sari yang akan diproses lebih lanjut — sedangkan ampas tape biasanya dibuang atau digunakan untuk keperluan lain (misalnya pakan ternak).

2. Pemanasan / pemekatan sari tape

Sari tape tersebut kemudian direbus atau dipanaskan hingga mengental. Proses pemanasan ini berfungsi untuk menguapkan sebagian air, mengonsentrasikan gula dan senyawa‐fermentasi, serta membentuk tekstur yang bisa menjadi lempengan. Sebagai contoh, artikel menyebut: “Sari air tape ketan putih lalu direbus hingga kental berwarna cokelat …”
Penelitian teknis pun mengungkap bahwa proses pemekatan dan pengadukan penting agar brem padat memperoleh karakter yang diinginkan — berbentuk lempengan, kering, mudah hancur di mulut.

3. Pengadukan dan tambahan bahan

Setelah mencapai pengentalan, adonan sari lalu diaduk (sering kali menggunakan mixer atau secara manual) dan kadangkala ditambahkan sedikit bahan seperti soda kue atau perasa bila ingin varian rasa. Contoh teknik tradisional: "Setelah warna cokelat, kita pindah ke blender diaduk sampai sekitar 1 jam lamanya dan mengental warna berubah putih."
Sebuah fakta lain: dalam praktik tradisional, tambahan soda kue digunakan untuk membantu tekstur menjadi lebih putih dan padat.
Di masa modern, sebagian produsen mulai memakai peralatan listrik/mixer untuk mempercepat pengadukan atau proses pemekatan.

4. Pencetakan / penghamparan

Adonan yang sudah cukup kental kemudian dituangkan ke dalam cetakan atau nampan besar yang sudah dipersiapkan. Tebal lempengan biasanya sekitar 0,5 hingga 1 cm. Dari artikel: “kita tuang ke nampan besar … Tebal sekitar satu cm biar dingin.”
Proses pencetakan ini menentukan ukuran, bentuk dan kemasan akhir. Beberapa bentuk modern juga mengalami variasi elemen desain.

5. Pengeringan / penjemuran

Setelah dicetak, lempengan brem didinginkan dan kemudian dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringkan hingga kadar air cukup rendah. Misalnya: “dijemur di bawah sinar matahari langsung.”
Tujuan pengeringan:

  • Memastikan brem padat dan tidak lembek
  • Mengurangi risiko jamur atau pembusukan
  • Meningkatkan daya tahan simpan
    Sebagai contoh lagi: “dijemur selama kurang lebih enam jam, sampai teksturnya keras dan kering. Harus kering, karena kalau masih basah hasil brem akan ada jamurnya.”

6. Pemotongan, pengepakan dan penyimpanan

Setelah pengeringan cukup, lempengan brem dipotong sesuai ukuran kemasan — misalnya kotak kecil untuk oleh-oleh. Kemudian dikemas dalam kotak ataupun plastik agar mudah dipasarkan. Artikel menyebut bahwa brem dipasarkan dengan harga paket tertentu dan varian rasa sudah mulai ada.
Penyimpanan juga penting agar kualitas rasa dan tekstur tetap terjaga.

Karakteristik Produk Akhir

Setelah melewati seluruh tahap, maka dihasilkanlah brem yang memiliki karakteristik khas:

  • Bentuk: lempengan tipis berwarna putih kekuningan hingga kuning muda.
  • Tekstur: padat saat dipotong/sentuh, tetapi saat dikunyah ia meleleh atau hancur di mulut dengan sensasi “dingin” atau menyegarkan. “Teksturnya padat tetapi langsung meleleh dan dingin ketika masuk ke dalam mulut.”
  • Rasa: manis + sedikit asam/fermentasi, aroma khas tape ketan. Sensasi khas ini muncul dari fermentasi dan pemanasan.
  • Aroma: sedikit aroma fermentasi (tapi tidak tajam), khas tape ketan.
  • Kandungan: Meski berasal dari tape yang mengalami fermentasi, kadar alkohol dalam brem padat cukup rendah dan aman dikonsumsi. Faktor halal pun menjadi perhatian produk modern.

Inovasi dan Perkembangan Terkini

Di era sekarang, produksi brem di daerah seperti Desa Kaliabu (Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun) mengalami modifikasi untuk meningkatkan efisiensi dan variasi produk. Beberapa perkembangan terbaru:

  • Produsen mulai menggunakan peralatan listrik atau semi-modern untuk beberapa tahap tertentu (pengadukan, pengeringan) namun tetap mempertahankan beberapa tahap tradisional (misalnya tangan untuk mengaduk tape atau mencetak).
  • Varian rasa semakin banyak: selain rasa original manis-asam, ada rasa buah-buah, cokelat, melon, jeruk, dan lainnya.
  • Pemasaran lebih luas: selain di toko oleh‐oleh lokal Madiun, brem sudah mulai dijual via marketplace (online) dan negara lain. Contoh: produsen brem di Kaliabu mengatakan mereka sudah menitipkan produk ke beberapa tempat di luar Jawa.
  • Penelitian akademis untuk optimasi proses: misalnya penelitian “Optimasi Proses Pembuatan Brem Padat dengan Penambahan Sari Buah Jeruk” (Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2017) menunjukkan bahwa dengan tambahan sari buah jeruk dan fermentasi optimal 5 hari, rendemen dan karakter produk dapat ditingkatkan.

Tantangan Produksi

Meskipun produksi berkembang, namun terdapat beberapa tantangan nyata yang dihadapi oleh pengrajin brem di Madiun:

  • Penurunan produksi: Laporan menyebut bahwa produksi brem di Madiun menurun drastis akibat pandemik, perubahan gaya hidup konsumen, serta tantangan distribusi. Sebelum pandemi, produksi bisa mencapai 1 ton ketan sehari di satu sentra, sekarang hanya 2-4 kuintal.
  • Ketersediaan bahan baku serta musim: Produksi tergantung pada ketersediaan ketan putih yang berkualitas, lingkungan fermentasi yang stabil, dan cuaca untuk pengeringan. Salah satu kendala adalah cuaca kurang mendukung sinar matahari saat pengeringan.
  • Kontrol kualitas dan standar pangan: Untuk bisa masuk pasar yang lebih luas serta memperoleh kepercayaan konsumen, aspek kebersihan, keamanan pangan serta sertifikasi halal/layak pangan menjadi tantangan bagi industri rumah tangga.
  • Persaingan dan perubahan selera: Konsumen muda cenderung memilih snack kekinian, sehingga produk tradisional harus berinovasi agar tetap relevan.

Tips Produksi bagi UKM/Bakal Pengrajin

Bagi siapa saja yang tertarik memproduksi brem Madiun (atau varian sejenis) – berikut beberapa tips praktis:

  • Pastikan bahan ketan memiliki kualitas bagus (putih bersih, bebas kotoran).
  • Atur waktu fermentasi tape dengan baik: ideal 5-7 hari, hindari terlalu cepat atau terlalu lama.
  • Kontrol suhu fermentasi dan kebersihan lingkungan.
  • Saat pemanasan sari tape, pengadukan dan pemekatan harus dilakukan dengan teliti untuk mendapatkan tekstur yang tepat.
  • Pengeringan penting: jangan terburu-buru; jika lempengan masih lembab, bisa jamuran atau rusak.
  • Kemasan menarik dan varian rasa bisa menjadi nilai tambah.
  • Dokumentasikan proses untuk keperluan standar pangan, keamanan produk, dan pemasaran.
  • Pertimbangkan pemasaran online agar jangkauan lebih luas.
  • Inovasi tetap penting – penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan seperti sari buah jeruk bisa meningkatkan rendemen dan karakter produk.

Proses pembuatan Brem Madiun adalah contoh bagaimana tradisi kuliner lokal dipadukan dengan keahlian dan ketelatenan dalam fermentasi dan pengolahan. Mulai dari beras ketan putih yang direndam dan dikukus, kemudian di­fermentasi menjadi tape, diperas menjadi sari, dipanaskan dan diolah menjadi adonan yang kemudian dicetak dan dikeringkan — seluruh rangkaian itulah yang menghasilkan lempengan manis-asam dengan tekstur lumer di mulut, sensasi dingin, dan aroma khas fermentasi.

Meski tantangan produksi dan perubahan zaman menghadang, Brem Madiun tetap memiliki potensi besar ― terutama jika pengrajin mengadaptasi inovasi, menjaga tradisi, dan memaksimalkan pemasaran. Untuk Anda yang ingin menikmati atau bahkan membuat sendiri versi rumahannya, memahami tahapan di atas akan sangat membantu.

HIACE